zainalmasri

Selamat datang di blog Coretan-coretan harian-Zainal Masri- semoga ada manfaatnya dan bernilai Ibadah disisi Nya..Amiin ya Rabbal 'Alamiin.”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf :17)...

Senin, 20 Juli 2020

Kasih, Kau Dimana?
Oleh: Zainal Masri

Kasih...
Hari ini gerimis turun membasahi bumi
Disaat Cahaya senjapun berangsur gelap
Aku rindu sebab tiada kabar darimu
Dipanggilpun tak dapat dihubungi

Kasih...
Biasanya kau berkirim kabar bak merpati 
Pun bagai semut yang bertegur sapa
Tapi kini kau dimana?
Semoga kau baik-baik saja disana ya.
Segeralah Pulang

Bateh Batu,2020



Sabtu, 18 Juli 2020

Ada Ubi, ada talas, ada Budi, Ada balas

Oleh: Zainal Masri

Ada sebuah cerita pada zaman dahulu, di suatu Kampung, hidup seorang anak muda yang tinggal dengan neneknya  di sebuah gubuk sederhana. Ibu dan ayahnya telah meninggal. Neneknya tersebut sayang sekali sama cucunya. Karena dialah satu-satunya harapan. 
Suatu pagi  "cucuku tersayang, andai nenek suatu hari nanti tiada lagi, Nenek berharap, kamu berbaik-baik lah dengan siapa saja mahluk Nya di dunia ini, karena itulah yang akan membuat kita bahagia, Termasuk kepada binatang sekalipun jangan pernah menganiayanya," pesan neneknya sambil sarapan pagi

"Baik nek, Kalau itu pesan nenek, saya laksanakan," kata cucunya.
Tersebab budi baik cucunya itu, akhirnya cucunya mendapatkan keajaiban dan kemudahan dalam hidupnya. 

Suatu hari, neneknya menyuruh cucunya belanja ke pasar untuk beli kebutuhan sehari-hari. 

"Cucuku, maukah kamu pergi pasar sayang? bekal seminggu kita sudah habis," Baik nek kata cucunya. "Apa beli di pasar nanti nek?" Kata cucunya. "Belilah cabe, garam, bawang, dan ikan," kata neneknya. Baik nek, tunggu nenek di rumah, biar saya yang pergi ke pasar.

Berangkat lah sang cucu ke pasar pergi berbelanja. Sesampai di pasar dibelinya apa yang disuruh neneknya, cabe, bawang garam. Setelah itu dia pergi beli ikan ke tempat orang jual ikan. Ketika mau beranjak sang cucu mendengar ada suara minta tolong, di tempat orang jual ikan itu "Tolong, tolong," terdengar suara menangis minta tolong. Sang cucu awalnya heran, dan orang- orang di pasar tidak ada yang menghiraukan suara minta tolong itu. "kenapa ya, orang-orang tidak berusaha mencari sumber suara itu" kata sang cucu di dalam hatinya. Lalu didengarkannya lagi, ternyata suara itu bersumber belakang orang jual ikan itu, di tepi pasir ada anak-anak ikan kecil yang di buang karena tidak laku dijual. 

Tolong, tolong..
Sang cucu tadi, mengambil anak-anak ikan tersebut. "apakah kamu yang minta tolong wahai anak ikan," tanya sang cucu. "Iya anak muda," Jawab anak ikan itu berharap pertolongan. "Kenapa kamu ada di sini lanjut sang cucu tadi?" "wahai Anak muda, kejam manusia ini, ikan yang besar-besar dijual nya dengan harga mahal. Kami-kami yang kecil-kecil ini di lempar begi saja ke pasir panas ini tanpa peduli dan balas kasihan, kami tak bisa hidup di sini," Imbuh anak-anak ikan tadi. "Baiklah kalau begitu aku membawa kalian ke air," kata sang cucu tadi. Lalu sang cucu membawa anak-anak ikan ke sebuah sungai dan melepaskannya dengan senyum bahagia.  "Terimakasih anak muda, sampai jumpa suatu hari nanti, ada ubi ada talas, ada budi ada balas," Kata anak-anak ikan tadi dengan senang hati. "Sama-sama, sampai jumpa juga," kata sang cucu.

Hari berganti berlalu, musim berganti.
Ia membantu neneknya bekerja di ladang, melewati suatu jalan yang ditumbuhi semak. Sang cucu mendengar pula ada suara minta tolong, Tolon, tolong..!

Di carinya sumber suara tadi, ternyata ia dapati 3 ekor anak burung yang minta makan  di dalam sarangnya dengan mulut yang terus menganga. "kenapa kalian minta tolong?" kata sang cucu
"Kejam sekali Manusia, Orang tua saya ditangkapnya ketika mencari makan untuk kami, tinggalah kami kecil-kecil yang belum bisa cari makan di sini yang tak tau sampai kapan akan terus begini," Kata anak-anak burung tadi. Lalu sang cucu sambil pergi ke ladang di antarkan lah makanan untuk anak burung tadi. Sampai burung itu besar dan bisa terbang. "wahai anak muda, engkau benar-benar baik, Terima kasih telah mengasih kami makan, hingga kami besar dan bisa terbang, sekarang kami sudah bisa cari makan sendiri," Kata anak-anak burung yang sudah besar itu. "ya..kalau begitu, silakanlah berusaha cari makan dan terbang lah dimana hidupmu bisa bahagia, hati-hati jangan sampai ditangkap oleh manusia jahat" Kata sang cucu. 

"Baiklah, kami bertiga pergi dulu ya, ada ubi ada talas ya anak muda yang baik, ada budi ada balasnya. Sampai jumpa suatu hari nanti," kata anak burung yang sudah besar, dan akrab dengan sang cucu tersebut.

5 tahun kemudian
Sang cucu, hidup sebatang kara, sebab sang neneknya telah berpulang ke rahmatullah. 

Sang cucu, yang sudah beranjak dewasa itu, tidak ingin hidup dalam ketersendirian. Ia bercita-cita ingin berumah tangga dengan perempuan solehah yang tau dengan agama. Sudah dicarinya tapi tidak dapat-dapat juga. 

Kemudian, sang cucu mendapat kabar ada anak raja yang cantik, solehah, dan akhlak nya baik, sudah dilamar oleh banyak pemuda, tapi raja memberikan ujian yang sangat berat. 
"Saya akan coba pula lamar, anak raja itu mudah-mudahan ada jalan" kata sang cucu di dalam hatinya.

Pergilah sang cucu tadi ke rumah raja untuk melamar anaknya cantik itu.
"Assalamualaikum," kata sang cucu
"Waalaikumsalam, silahkan masuk" jawab tuan raja.

"Eh, anak muda, apa kabar ada tujuan apa kemari?" kata raja serius.
"Kabar baik, maksud kedatangan saya ingin melamar anak gadis tuan raja, menjadi pendamping hidup saya, saya harap tuan berkenan mengabulkannya", kata sang cucu penuh harap.

"Anak muda, potonganmu kurus kayak gini, apakah mampu melamar anak gadis saya yang cantik, salehah dan baik itu,  kalau kamu ingin menikah dengan anak gadis saya, kamu harus sanggup lalui ujian," jawab raja.

"Saya sanggup tuan raja, saya ingin menikah dengan anak gadis tuan raja" jawab sang cucu dengan yakin.

Setelah sekian banyak lamaran yang diterima tuan raja. Akhirnya suatu hari raja  mengadakan ujian kepada pemuda-pemuda yang sudah melamar putrinya ke sebuah pohon besar yang sangat tinggi dan rimbun. Hadirlah pemuda-pemuda yang sudah melamar anak gadisnya di situ untuk mengikuti tes.

"Wahai anak-anak muda, siapa yang bisa memanjat pohon besar ini dan mengambil buah kecil nun tinggi di ujung dahan sana, maka ia lolos satu tes menikahi putri saya," kata tuan raja.

Dipanggillah satu persatu. Ada yang sanggup memanjat hanya sampai seperempat batang lalu kembali turun. Ada yang sampai setengah dahan. Ada yang baru manjat lalu jatuh. 

Tibalah panggilan giliran sang cucu peserta terakhir. Semua peserta lain mencemoohkannya. 
"Badan kurus begini, apa bisa manjat," kata salah seorang peserta tertawa diikuti oleh peserta lainnya

"Aku harus bisa menikah dengan anak gadis tuan raja, Bismillah" kata sang cucu di dalam hatinya.

Dipanjatnya pohon besar tadi, hingga sampai setengah dahan. Dengan tertatih-tatih hingga  napas yang terengah-engah. Ditengah sorakan cemoohan itu. Dalam pada itu sang cucu terdiam sejenak.

"Daripada turun dengan kegagalan, lebih baik mati demi kesuksesan," kata hatinya berbisik.

Beberapa saat tanpa disadarinya, ia melihat seekor burung yang sedang terbang mencari makan di pohon yang ia panjat itu.

"Hallo, tuan muda, apa kabar sudah lama kita tak bertemu, kenapa kamu ada di sini, kamu kok sedih sekali" kata burung tadi.

"Hallo, siapa kamu?" kata sang cucu
"Saya adalah anak burung yang dulu kamu kasih makan, disaat orang tuaku ditangkap manusia kejam itu, kamu kenapa ada disini?" katanya.

"Saya ingin menikah dengan putri raja, tapi syaratnya harus bisa memanjat pohon besar ini, dan mengambil buah yang satu terletak nun jauh di ujung ranting sana, saya tak sanggup lagi," kata sang cucu sedih.

"Tenanglah, ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Aku yang akan membantu mengambilkannya," kata sang burung tadi.

Lalu burung tersebut, terbang ke buah kecil yang terletak di ujung ranting tersebut dan mengambil dengan paruhnya.

"Inikah yang di minta tuan raja?" tanya burung.
"Betul, betul, Terima kasih sahabatku, memang ada budi ada balasnya," jawab sang cucu denga senyum gembira.

"Ya, sudah, turunlah kembali, engkau berhak menikah dengan putri raja" kata sang burung dengan gembira.

Kemudian sang cucu turun dari pohon besar itu dengan tersenyum ia menyerahkan buah kecil dari pohon tersebut kepada sang raja.

"Luar biasa, kamu wahai anak muda" kata tuan raja sambil terkagum-kagum dengan peserta lain yang tidak dapat berkata-kata.

"Sudah selesaikah tesnya sampai di sini?" kata tuan raja. 

Ternyata masih ada satu tes lagi yang lebih berat, bagi peserta yang ingin menikah dengan anak raja tersebut. 

Hari berikutnya sang raja membawa para pemuda yang melamar anak gadisnya itu ke laut yang sangat dalam. 

"Siapa yang sanggup menyelam dan  menemukannya kembali cincin emas yang aku lemparkan ke tengah laut sana, maka ia berhak menikahi putri saya," kata tuan raja

Maka di panggil lagi peserta satu, dua, tiga dan seterusnya, tidak satupun yang dapat menemukannya. Sampailah giliran sang cucu. 

"Wahai, anak Muda, apakah kamu sanggup, silakan" Kata tuan raja. 
"Saya sanggup tuan raja, Bismillah" jawab sang cucu.

Tanpa berfikir panjang sang cucu menyelam ke laut yang sangat dalam tersebut mencari cincin yang sudah dilemparkan tuan raja. Dengan nafas yang sudah tersendat-sendat belum juga berhasil.

"Daripada hidup bercermin malu, lebih baik mati demi kesuksesan" kata hatinya berbisik.

Dalam saat yang sama, datang seekor ikan besar mulutnya bergumam-gumam.
"Hai anak muda, Apa kabar, dan apa yang kau cari di sini, saya yang dulu kamu tolong ketika manusia kejam membuang aku ke pasir panas" ujar ikan tersebut.

"Alhamdulillah, kamu sudah besar ya, saya sekarang sedang mencari Cincin emas yang dilemparkan tuan raja ke laut ini, untuk bisa menikah dengan putrinya" curhat sang cucu.

Sambil menghentikan gumamnya, sang ikan tadi memberikan cincin emas yang ada dalam mulutnya kepada sang cucu tadi. 

"Inikah yang kamu cari sahabatku, ambillah!" ujar ikan tadi.

"Iya, betul. Terima kasih, wahai ikan, kalau tidak ada kamu mungkin saya tidak akan menemukan cincin ini," kata sang cucu tadi.

"Sama-sama, begitulah hidup, Ada ubi ada talas ada budi ada balas, segeralah kembali Kamu berhak menikah dengan putri raja itu " kata ikan tadi sambil tersenyum gembira.

Dengan senang ria, sang cucu segera keluar membawa cincin emas yang dilemparkan raja ketengah laut tadi, ke hadapan tuan raja. Dengan terheran-heran tuan raja, memutuskan bahwa yang berhak menikah dengan sang putri nya adalah sang cucu yang baik tersebut. (*)