Cinta tapi Durhaka
Oleh: Zainal Masri
Aku Sabri (nama samaran). Ketika Aku hendak menyelesaikan tulisan ini, sementara teman-teman aku tertawa sinis. Mereka ada yang mennganggap aku diam-diam sudah pandai pula bercinta.
"Anda saya kenal, Seorang Dai mau menulis tentang Cinta, sudah pandai pula ya, pacaran, terbalik dunia," celotehan mereka dengan cemooh.
Aku cukup tergelitik dengan cemoohan mereka yang berkata seperti itu, karena seolah-olah mereka menganggap dan menjadikan pacaranlah sebagai prestasi pencapaian hidup bahagia. Tidak pandai pacaran, dianggap tidak laku, tidak gaul dan tidak keren. Padahal persoalan laku, gaul, keren tidak diukur dengan seberapa banyak wanita atau laki-laki yang sudah di pacari.
Untuk menjawab celotehan mereka, aku ingin menghidangkan secercah goresan bisikan hatiku. Sebagai seorang anak muda gaul, mandiri dan berani berkata "inilah aku!"
"Orang boleh berceloteh apa saja, tapi kenyataan, Pacaran tak pernah ku dambakan" jawab dengan tersenyum kepada teman-temanku.
****
Sebagai insan yang fitrah perasaan Cinta tentu ada, apalagi dikala usia sudah cukup matang untuk mewujudkannya ke jenjang pernikahan.
Tapi jika salah pengertian, ya Memang tidak ada, jarang Rasa itu membuat mata menjadi buta, jika mengenai hati bisa tersentuh. tapi itukah cinta? Sebagian mungkin ada yang berkata, iya.
Cinta itu memang indah, ia mampu membuat angin tak kuasa bertiup. Percikan asmara dan berhasrat bagai gulungan awan, terkadang bersibak dan bertaut menimbulkan bayangan Indah tersendiri.
Cinta juga bagai nyala api lilin, walaupun kecil tapi sangat berarti dalam menerangi gelap gulitanya malam.
Tapi jangan sekali-kali menganggap remeh nyala yang kecil itu, jika sempat membakar, ia mampu menghanguskan apa saja. Demikianlah jika cinta tak lagi berlabuh pada tempatnya.
Berbahagialah anda jika telah menemukan Cinta sejati dari orang yang benar-benar tulus anda cintai. Jagalah baik-baik agar tetap langgeng. Tapi bagi yang gagal atau hanya penuh kerpura-puraan saja cinta padahal dibaliknya ada dusta dan Durhaka, Tidak hanya di dikhianati bahkan disakiti. Inilah awal dari kehidupan yang paling pahit dan memilukan.
***
Inilah yang pernah terjadi padaku . Ketika awal aku kenal dengan dengan Putri (nama samaran), 2 tahun yang lalu dari teman dekatku. Aku telah melautkan tujuan dan maksud baikku mengenalnya.
"Putri, Apakah dirimu dan hatimu sudah ada orang lain yang mengisinya?" tanyaku dengan niat tulus dan penuh harap.
Putri yang sudah pernah diputusin pacarnya itu, bercerita panjang lebar kisahnya padaku bahwa ia sudah pernah dilamar dan mengikat janji akan segera menikah dengan Rusdi (nama samaran), tapi pemuda itu menjadikannya tempat persinggahan sebentar saja, disaat ia melihat ada wanita lain yang lebih komitmen, ia tinggalkanlah Putri. Begitulah dalam luka yang ia toreskan dihati ini, hari-harinya berbalut luka penuh tikaman nista. Curhat Putri padaku.
"Untuk saat ini, Aku masih sendiri Bang Sabri, dan belum ada orang lain di hatiku lagi, " sambung Putri dengan nada mengiba.
Aku yang memang sudah cukup dan sudah layaknya memasuki bahtera rumah tangga, ya. Terasa bagaikan pucuk di cinta ulampun tiba. Tapi dari curhatnya ada yang membuat hatiku tak begitu yakin akan keseriusan Putri.
"Jika kamu tidak keberatan, apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidupku Putri?" tanyaku dengan maksud ingin melamarnya.
Lama Putri terdiam, mendengar nada keseriusanku tersebut. Sepertinya ia tidak yakin lagi akan terwujud.
"Bang Sabri, tapi maaf sebelumnya Bang, Apakah abang betul-betul serius bisa mencintai Putri?" tanya Putri dengan nada serius.
"Serius Putri" jawabku dengan yakin.
"Kalau abang serius datanglah ke rumah orang tuaku, aku tak ingin terjadi lagi pengalaman buruk ini terjadi untuk kedua kalinya" sambung Putri dengan harap.
Dalam selang beberapa hari sesudah itu, Aku orang yang biasanya serius, dan tak pernah mengenal yang namanya pacaran, ya, dengan niat tulus datang ke rumah orang tua Putri menyampaikan maksud baikku ingin melamar Putri.
"Assalamualaikum" ucapku sambil mengetuk pintu rumah Putri.
"Waalaikumsalam" silahkan duduk Nak," Jawab orang tua Putri.
"Terima kasih Bunda"
Setelah selesai minum teh hangat yang di buatkan Putri, Dengan bahasa yang lembut dan santun, orang tua Putri bertanya.
"Apa maksud kedatangan Nak Sabri siang-siang ke sini?"
"Sebelumnya saya Minta maaf Bun, mungkin bunda telah mendengar cerita tentang aku dari Putri,"
"Ya, Apa itu, Nak?"
"Jelasnya, maksud kedatangan aku ke sini ingin meminang Putri Bunda, dan ingin menjadikannya pendamping hidupku dalam menapaki hari-hari ke depan, apakah Bunda mengizinkannya?"
"Maaf Nak Sabri, untuk masalah itu hanya Putri yang bisa menjawabnya, kalau Putri tidak keberatan Ibuk mengizinkannya"
"Sebelum aku datang ke sini menemui Bunda, Putri mungkin telah bilang ia akan menerima aku apa adanya, kalau Bunda merestuinya"
"Oh begitu Nak, Ibuk merestui Nak Sabri menjadi pendamping Putri, tapi maaf jika nak sabri Mau berjanji"
"Kenapa, Berjanji Bun?"
"Karena Putri Masih dalam menyelesaikan study S2 satu tahun lagi wisuda"
Mendengar berjanji, dan menyelesaikan study dulu itu, aku yang tadinya begitu semangat, sekarang berubah menjadi tak begitu antusias lagi. Karena saya telah mendengar cerita duka Putri, yang ditinggal oleh lelaki yang hendak menikah dengannya tersebabnya karena janji-janji yang tak pasti. Putri menhabiskan waktu saja ke sana kemari, tanpa tujuan yang jelas.
" Wajar, kamu terluka Putri, karena kamu memberi harapan yang tak pasti kepada lelaki, kalau serius kenapa harus menunggu wisuda dulu?" kata hatiku berbisik.
"Jujur, Soal menunggu Putri sampai tamat Bun, aku tidak bisa berjanji, kalau begitu, jika ada laki-laki lain yang datang melamar Putri Sila terima sajalah, jangan tunggu aku,"
Selama Putri belum halal untuk saya, saya tidak akan pernah mau diajak Putri kemanapun Pergi, Tek, kalau Putri dan Etek tidak setuju, Alangkah lebih baiknya Selesaikan sajalah kuliah Putri terlebih dahulu, nanti kalau berjodoh mungkin akan bertemu juga"
"Baik Nak, Sabri"
"Dengan segala kerendahan hati orang tua Putri menerima maksud baikku, dengan perjanjian menunggu hingga putri tamat dulu dan syarat yang telah ku hidangkan.
Tapi dalam perjalanannya, harapan tak sesuai dengan kenyataan. Janji tinggal janji. Perilaku Putri yang memang suka hura-hura, smsan, minta di jemput, dan mengajak jalan-jalan ke tempat-tempat wisata tanpa tujuan yang jelas itu, telah membuatku , bimbang dan ingin membatalkan saja sampai di sini.
Masih ada dalam ingatanku ketika itu, Putri suatu hari menefon saya" Bang Sabri, Jika bang Sabri itu benar-benar Cinta, korbankanlah waktu Abang jalan-jalan, jemputlah sekali-sekali Putri pulang Kuliah," kata Putri dengan merayu
"Putri, Lupakah kamu pada Janji yang pernah kita buat dihadapan Bunda, bahwa aku tidak akan pernah berbuat seperti itu, itu bukan Cinta namanya Putri, tapi Durhaka" ujarku.
Ku tak pernah dididik oleh orang tua sejak kecil seperti itu.