zainalmasri

Selamat datang di blog Coretan-coretan harian-Zainal Masri- semoga ada manfaatnya dan bernilai Ibadah disisi Nya..Amiin ya Rabbal 'Alamiin.”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf :17)...

Jumat, 08 Mei 2020

Burung Pipit dan Pak Tani

Oleh: Zainal  Masri

Sudah berpupuh seminggu baru selesai buah jerami ini dipagar rapat-rapat kiri, kanan, atas, dan bawah. Pertanda tidak ada yang  boleh masuk. Tapi masih gigih juga, ingin coba-coba kepandaian, melalui lubang angin.

Hoop, hoop, sss, ssst. Pergilah lah kalian semua. Pergi! Jangan sampai habis kesabaran saya. Terdengar suara yang menakutkan dari tepi lokasi dakek durian luncuang itu. Rupanya pemilik buah jerami itu datang. Terlihatlah Sekelompok Warga yang tiba-tiba saja entah dari mana datangnya, tidak menghiraukan juga sumber suara tersebut. 

Sudah berkali-kali di peringatkan. Hari pertama, kedua, ketiga. Masih juga tak dihiraukan.

Push..tembakan peringatan terdengar dari sumber suara.
Ssss,ssst, ia ingin memperlihatkan kemarahan sang pemilik buah jerami, dengan berjalan darat dalam lahan. 

Sang pemilik jerami menghalau "Ssst, sambil menggoyang pagar. Tapi Terdengar suara cemoohan dari dalam.
"Prit,prit, prit, Emang Gue pikirin? Kami tau bapak tidak suka kami ke sini, kedatangan kami hanya merugikan bapak. Mengambil hak bapak. Tapi asal bapak tau isi hati kami, "Kalau tidak Pahit sekali hidup ini, Mungkin kami  tak akan kesini, ya kan kawan-kawan? Prit,prit,prit, (Yaa kata teman-temannya). Kami kesini, karena terpaksa daripada anak bini kami kelaparan. Suara bapak tak menakutkan bagi kami. Sila kalau berani kejar kami. Katanya dari dalam lahan. 

Karena kesal, bengis, melihat warga yang kurang ajar merampas hak tanpa iba itu. "Sungguh terlalu. Saya yang ingin kalian main-mainkan, sudah saya bilang ke kalian jangan kesini juga, empat bulan saya rawat dengan susah payah pergi pagi pulang sore, tak kenal lelah, hujan dan panas. Tiba-tiba kalian ambil sesuka kalian.

Kalau sekali dua kali bolehlah, bisa saya maafkan. Ini kalian tak memikirkan orang lain ini. Mau menghabiskan. Bagaimana saya bisa makan untuk hidup nanti. Kalau kalian habiskan. Sekarang musim Corona dan PSBB, diimbau agar tetap di rumah. Dengan apa makan. Kurang ajar kalian ya.

dugdugdug, dugdugdug, dugdugdug. dengan lari yang kencang sang pemilik buah jerami mengejar warga tersebukalian. Dari kemaren-kemaren saya himbau ke kalian , jangan masuk dan rampas  juga buah jerami orang, tapi karena kalian pakak alyas tak mendengar. Begini akhirnya, saya sudah sangat sabar, dilepaskan pun kalian akan tetap juga tak mendengar himbauan. Lebih baik kalian diikat, dan pilihan cuma dua di masukan ke dalam penjara, atau sembelih. Kalau kalian masuk penjara bersyukurlah Kalian tetap gemuk kok karena makan tetap dikasih. Tapi kalau saya sembelih,  tamat riwayat. Kuali dan minyak goreng siap menanti kalian. Pemilik buah jerami akhirnya memutuskan untuk disembelih. Diasahnya pisau tajam-tajam. Warga yang ditangkap tersebut dengan berlinangan air mata. Menunjukkan penyesalan terhadap apa yang telah diperbuatnya.  Tapi apalah daya hendak dikata, Nasi telah menjadi bubur.  Walau dengan rasa berat hati, mautpun menghadangnya. Sekelompok burung-burung pipit tersebut akhirnya disembelih dan digoreng oleh Pak tani.

Demikian kisah kejadian beberapa hari belakangan ini, segugus burung Pipit  yang ditangkap Pak tani di sawah yang padinya sedang terbit berbuah.
Burung tersebut bernama unggeh pik pakak.

Bateh Batu, 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar